Pendidikan
Mahasiswa sebagai sparring partner dalam kampanye kampus
Pemerintah pada Pemilu 2004 memperbolehkan partai politik (parpol) berkampanye di kampus. Hal ini memancing reaksi dari kalangan civitas akademika. Menurut Malik Fajar, model kampanye kampus tidak sama dengan model kampanye pengerahan massa. Kampanye di kampus akan lebih mengedepankan ciri akademis dengan cara dialogis. Suatu model kampanye yang “akan bermanfaat bagi pendidikan politik para mahasiswa” (Republika 26/2/2003). Parpol di perbolehkan kampanye sesuai mekanisme kampanye yang ditetapkan oleh masing masing kampus.
Kekerasan, Buah Kegagalan Pendidikan?
Daniel Gobey (2004) mengatakan pada awal 1960-an, banyak orang yakini kebenaran gagasan Konrad Lorenz, seorang ethiolog (pakar “psikologi” binatang) asal Jerman, yang menyebutkan bahwa kekerasan, tak ubahnya rasa lapar, adalah naluri manusia sebagai bagian dari kodratnya yang jasmaniah. Di dasawarsa berikutnya, tahun 1970-an, orang lebih menaruh perhatian pada apa yang kemudian dinamai sebagi “lingkaran setan” kekerasan
Mengurai simbol-simbol ajaran agama
“Meskipun ada bermacam-macam, tujuannya adalah satu. Apakah anada tidak tahu bahwa banyak ajalan menuju Ka’bah? ….oleh karena itu apabila yang anda pertimbvangkan adalah jalannya maka sangat beranekaragam dan sanagat tidak terbatas jumlahnya; namun apabila yang anda pertimbangkan adalah tujuannya maka semuanya terarah hanya pada satu tujuan”.